Saturday, June 18, 2011

Catatan Menjelang Akhir Muda

Masa muda,
ada ribuan kata bijak yang bertutur tentang-nya, tapi...
seperti apakah aku sekarang?
hari ini aku merasa mulai menua
bukan masalah materi ataupun umur,
tapi lelah di pikiran menyumbat setiap sudut angan
perlahan menggerogoti ruang hati


aku tahu betul siapa diriku
syukur saja belum cukup untuk semua hal sampai hari ini
untuk keluarga...
untuk yang tercinta...
untuk sahabat...
karena mereka aku menjadi diriku

tanpa sedikitpun menyesali semua yang t'lah terjadi
inilah kehidupan
kadang tawa liar penuh kebahagiaan,
sesekali tangis pilu menyesakkan dada
dan hari pun 'kan tetap berganti
tanpa menunggu siapapun

"menjadi manusia yang lebih baik"
rasanya terlalu mudah untuk diucapkan
lantas bagaimana mewujudkannya?
seperti apa manusia yang baik?
baik untuk siapa?
ahh...dangkalnya pikiranku belum mampu menjawabnya
sejauh ini aku sudah memberikan yang terbaik,
kepada setiap pekerjaan, setiap kawan, bahkan musuhku
mungkin itu maksudnya?

tetapi...
maafkan hambamu ini yaa Rabb,
perintah-Mu belum banyak yang aku penuhi,
terlalu banyak larangan-Mu yang aku langgar..
syukur atas nikmat-Mu pun sebatas di bibir
walau aku sangat paham,
hanya Engkau obat untuk semua ke-gamangan yang aku alami


tetap saja aku manusia tolol
masih menjalani hari layaknya 'kan hidup abadi
mengejar dunia yang memang tak bertepi,
yang takkan pernah kutemui ujungnya

ya Rabb...
bisikkan suara merdu-Mu ke telinga yang dungu ini
agar hati yang congkak ini segera luluh dan kembali kepada-Mu
aku tak sudi membawa jiwa yang kotor ini menghadap-Mu
saat Engkau mengambil kembali nyawa ini
nanti...

                                                                                                                                         

Tuesday, May 17, 2011

Belajar Dari Sukijan

Sekitar delapan bulan terakhir ini, hampir setiap hari saya selalu bertemu dengan seseorang di tempat kerja saya. Dia masih muda, baru saja lulus sekolah tahun ajaran 2010 dari salah satu SMK di Kebumen. Namanya Sukijan, memang bukan nama yang keren lagi untuk remaja seumuran dia sekarang. Saat pertama kali bertemu dengannya, sekilas saya melihat penampilannya juga tidak jauh dari namanya, jika boleh mengutip kata-kata dari salah satu presenter di salah satu TV swasta, bisa dibilang "katrok". Orangnya tinggi kerempeng, bahkan jika berjalan mirip rerumputan yang bergoyang ditiup angin, melambai kesana-kemari. Ditambah  lagi jika dia berbicara menggunakan bahasa jawa khas Kebumen yang "ngapag", benar-benar menambah kesan katrok dalam dirinya.

Karena letak pos kami yang berdekatan, membuat kami sering ngobrol. Banyak yang kami bicarakan walaupun kebanyakan memang hal-hal yang sangat sepele, seperti kemarin malam tidur jam berapa, bla..bla..bla... Dari perbincangan yang hampir setiap hari itu membuat saya mengenal baik seorang rekan kerja saya yang bernama Sukijan.  Tapi semakin lama saya mengenalnya, saya semakin kagum dengan ketulusan dan cita-cita yang dia punya.

Pekerjaan yang diberikan kepadanya bukanlah pekerjaan yang gampang, bahkan beberapa "karyawan tetap" yang sudah 3-4 tahun bekerja tidak sanggup jika disuruh mengisi pos yang diisi oleh Sukijan. Selain banyak item yang harus dipasang,  pos Sukijan termasuk pos yang paling "rawan". Saya katakan rawan karena pekerjaan-nya beresiko merusakkan part  yang hendak dipasang. Jika sudah rusak, part tersebut sudah tidak bisa di repair lagi, bahkan harus dibongkar semua dan diganti dengan part yang baru. Karena itu sebagian besar dari kami menolak jika ditempatkan di pos tersebut, tapi seorang Sukijan berhasil menjalankan pekerjaannya dengan baik, kami semua benar-benar salut dengan hal itu.

Dia bercerita kepada saya bahwa dia memang berasal dari keluarga yang miskin. Ketika saya coba bertanya kepadanya, setelah selesai kontrak dari sini mau melanjutkan kemana. Dengan tegas dia menjawab ingin melanjutkan kuliah. Saya benar-benar malu kepadanya dan kepada diri saya sendiri, karena waktu saya lulus sekolah dulu tidak terbesit sedikitpun niat saya untuk melanjutkan kuliah. Boro-boro berpikir tentang kuliah, saat sekolah saja sama sekali saya tidak mengerti tentang pelajaran yang diajarkan di sekolah. Tapi sungguh tinggi cita-cita Sukijan, dia berkata jika hanya lulusan SMK langsung bekerja sampai kapanpun juga tetap akan menjadi buruh, tidak akan pernah "kerja enak" katanya. Sekali lagi saya hanya tersenyam kecut kepada diri saya sendiri, karena hampir 5 tahun ini saya merasakan sendiri bagaimana pahitnya menjadi seorang buruh.

Saat ada acara kumpul-kumpul sehabis kerja, saya meminjam handphone-nya. Dengan alasan minta lagu saya mencoba melihat selera musik Sukijan. Saya sedikit terkejut dengan selera musiknya, di handphone-nya sama sekali tidak ada musik melayu yang memang sedang menjadi hits  ABG saat ini. Beberapa nama "musisi berkelas" ada dalam playlist-nya, seperti Jason Mraz, Michael Buble dan Jamie Cullum. Sungguh berbeda dengan anak-anak ABG seumuran-nya, yang berpenampilan metal tapi selera musik  pop melayu. 

Beberapa minggu kemarin saya iseng bertanya kepadanya, sudah terkumpul berapa tabungan untuk kuliah. Dengan bahasa jawa ngapag-nya dia menjawab belum banyak, karena sebagian besar duitnya dipakai untuk membantu keluarga dulu, diiringi tawa cempreng-nya. Karena itu dia berkeinginan untuk menyambung kontrak setahun lagi, biar kuliahnya kelak bisa lancar katanya. walaupun  saya ikut menyesal mendengarnya, tapi saya tetap salut dengan ketulusan yang dimilikinya. Karena saya merasa, selama ini jarang sekali saya membantu keluarga. Sekali lagi Sukijan mengajarkan sebuah ketulusan  kepada saya.

Pelajaran paling berharga dari Sukijan adalah siapapun namanya, bagaimana-pun penampilanya, jangan pernah menganggap remeh padanya. Senang rasanya bisa mengenal seorang Sukijan, setelah berpisah nanti semoga saya bisa bertemu lagi denganya, saat Sukijan sudah berhasil menggapai cita-cita-nya.

Monday, May 16, 2011

Senja Yang Sama

menikmati langit senja disini,
dari ratusan tempat yang pernah kusinggahi
rasanya tak ada yang berbeda,
dan mentari pun selalu tergesa untuk pergi

biru kemerahan warna yang ditinggalkannya
menemani hati yang sepi
penuntun jalan untuk menemukan diri
walau awan hitam kadang mengusiknya,
tetap saja keindahannya tak dapat terganti


lalu,
satu persatu lampu jalan mulai beraksi
diiringi lantang suara adzan yang dikumandangkan
memaksa gerombolan kelelawar untuk segera menari


dan kini,
senja memang t'lah berlalu
tanpa memberitahu siapa diri
hanya harapan yang tersisa
semoga selalu terjaga dalam do'a



      Sunter, 16 Mei 2011
 
Baratie - Blogger Templates, - by Templates para novo blogger Displayed on lasik Singapore eye clinic.